USD
Rp14.110
(+0.23%)
SGD
Rp10.406
(+0.17%)
EUR
Rp15.976
(+0.01%)
AUD
Rp10.094
(+0.14%)
DKK
Rp2.141
(+0.02%)
SEK
Rp1.527
(-0.12%)
CAD
Rp10.664
(+0.13%)
NZD
Rp9.694
(+0.17%)
GBP
Rp18.246
(-0.04%)
HKD
Rp1.798
(+0.23%)
JPY
Rp128
(+0.32%)
SAR
Rp3.762
(+0.24%)
CNY
Rp2.085
(+0.13%)
MYR
Rp3.461
(+0.05%)
THB
Rp452
(+0.11%)

Cari Tau,  Mengapa Kita Bisa Tertawa Saat Tubuh Merasa Geli?

Milenia.id – Setiap orang memiliki cara tersediri untuk bisa tertawa.  Dari biasa melihat kejadian lucu,  hingga mengingat sesuatu hal yang mungkin tak bisa terlupakan.

Hai milenials,  tertawa nyatanya tidak melulu disebabkan dari  faktor di atas. Ketika beberapa bagian tubuh digelitik sebagian dari kita mungkin akan segera merasakan geli. Namun, kenapa saat geli kita selalu tertawa dan kadang ada yang sampai mengeluarkan air mata?

Melansir Kompas. com dari Hello Sehat, saat ujung saraf di lapisan epidermis (lapisan kulit) distimulasi oleh sentuhan, saraf tersebut akan memberikan sinyal pada sistem saraf di otak.

Tentu ini bukan karena ada sesuatu yang lucu, melainkan bentuk pertahanan tubuh.

Penelitian yang dikutip oleh situs Mental Floss menemukan ada dua area di otak yang membuat munculnya sensasi geli.

Pertama adalah korteks somatosensori, yaitu daerah yang bertanggung jawab menganalisis sentuhan. Kedua adalah korteks cingulate anterior, yaitu yang berperan dalam menciptakan rasa menyenangkan.

Jadi, saat Anda mendapatkan sentuhan yang ringan,  korteks somatosensori dan korteks cingulate anterior menciptakan sensasi itu sebagai rasa geli.

Bentuk pertahanan

Studi lain yang menggunakan functional magnetic resonance imaging machines (fMRI) menunjukkan tertawa karena lelucon dan tertawa saat geli dapat mengaktifkan area di otak yang bernama Rolandic Operculum.

Rolandic Operculum memiliki tugas untuk mengontrol gerakan wajah serta reaksi suara dan emosi kita.

Selain itu, tertawa karena geli dapat mengaktifkan hypothalamus atau bagian otak yang mengatur respon terhadap antisipasi rasa sakit. Jadi, saraf dapat mengirimkan sinyal sentuhan ringan pada berbagai bagian otak.

Beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa tertawa karena geli bisa dikatakan sebagai sinyal alami dari bentuk perlawanan kita. Hal ini seperti tubuh belajar untuk melindungi diri dari serangan.

Perlu diingat bahwa kita memiliki kemampuan alami untuk melindungi diri. Selain itu, tertawa dapat mengurangi tekanan dari “serangan” geli tersebut, juga dapat menghindarkan kita dari terluka. Area tubuh yang paling geli saat digelitik biasanya paling rentan juga mendapatkan cedera.

Lalu kenapa kita tidak merasa geli saat digelitik diri sendiri?

Saat kita melakukan aksi menggelitik diri sendiri, tentu Anda tidak akan merasakan geli.

Ada bagian otak yang disebut cerebellum, yaitu yang berlokasi di bagian belakang otak dan berfungsi untuk mengatur gerakan. Dengan kata lain, Anda bisa memprediksi gerakan yang akan dilakukan.

Begitu juga saat akan menggelitik diri sendiri, Anda sudah dapat memprediksinya, sehingga sinyal peringatan muncul pada otak, otak pun menyuruh kita untuk waspada saat mendapat serangan tersebut.

Tapi bukankah kita juga bisa waspada pada serangan dari orang lain?

Tentu, kita bisa waspada. Itu mengapa ada beberapa sentuhan ringan yang tidak menimbulkan geli juga.

Tapi tidak semua sentuhan dari orang lain bisa ditebak gerakannya. Sedangkan sentuhan ringan dari jari sendiri benar-benar dapat ditebak.

Sentuhan jari sendiri tidak menarik perhatian otak Anda, jadi otak pun mengabaikan informasi tersebut, sehingga informasi tersebut tidak masuk ke dalam kesadaran Anda. Ini dikaitkan dengan pelemahan sensorik.

Otak mengidentifikasinya sebagai informasi yang tidak penting, bukan sesuatu yang memerlukan konsentrasi khusus.

Nah,  sudah mengerti kan?  Semoga bisa memberi pengetahuan baru untuk kalian,  ya.

 

 

 

Baca Juga
Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More