USD
Rp14.046
(-0.01%)
SGD
Rp10.341
(-0.01%)
EUR
Rp16.388
(-0.02%)
AUD
Rp10.453
(-0.01%)
DKK
Rp2.197
(-0.01%)
SEK
Rp1.586
(-0.01%)
CAD
Rp10.572
(+0.06%)
NZD
Rp9.702
(-0.01%)
GBP
Rp18.636
(-0.04%)
HKD
Rp1.790
(-0.01%)
JPY
Rp128
(-0.01%)
SAR
Rp3.745
(-0.01%)
CNY
Rp2.159
(-0.01%)
MYR
Rp3.510
(-0.01%)
THB
Rp427
(-0.01%)

Sejarah Panjang Asal Muasal Peci Hitam Sebagai Simbol Pemersatu Bangsa, “Semua Presiden RI Aja Pakai ini ?”

118

Serang, Milenia.id – by the way, ada yang penasaran gak sih sama yang namanya “Peci”. Tutup kepala berwarna hitam, yang kalau diperhatikan selalu digunakan kaum adam di Indonesia dalam acara resmi, baik dalam acara yang berhubungan dengan masalah keagamaan, sosial,  atau pun Kenegaraan pada acara berskala Lokal, Nasional, maupun International.

Kira-kira kenapa yah, mulai dari Presiden, Menteri, Sampai dengan Kepala daerah selalu mengenakan Peci dalam setiap pertemuan, sampai-sampa setiap foto yang dicetak dan di pampang selalu mengenakan Peci. Pedahal di Indonesia, Peci itu identik dengan busana yang di kenakan oleh umat muslim. Terus kenapa juga dari sekian banyak jenis penutup kepala yang terdapat di seluruh pakaian adat di Indonesia, hanya peci hitam ini nih yang bisa dibilang mewakilkan keanekaragaman pakaian tradisional Indonesia.

I. Asal Muasal Peci di Indonesia

Masih terdapat simpang siur berita tentang darimana asal muasal sebuah Peci, namun yang jelas Peci merupakan pandangan umum ditanah melayu yang biasa dikenakan sebagai penutup kepala pria pada abad ke-13, Saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, yang kemudian ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Peci merupakan modifikasi dari Kopiah/Songkok yang diperdagangkan Arab untuk menyebarkan agama Islam

Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah”  yang di tulis dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan oleh para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban yang dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan untuk orang biasa.

Namun bentuk peci agak berbeda dengan Songkok atau Kopiah. Pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab. 

Peci di bawa oleh Laksamana Cheng Ho ke Indonesia

Ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. PECI berasal dari kata PE (artinya delapan) dan CHI (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Peci merupakan Tintisan dari Sunan Kalijaga.

Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V. Mahkota itu disebut Kuluk dan mirip kopiah, hanya ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hanya ketakwaan yang membedakan.

II. Peci Sebagai Pergerakan Mahasiswa Pada Zaman Penjajahan

Sejarah peci, tentunya tidak terlepas dari beberapa penggalan kisah tentang masa penjajahan. Konon di ceritakan pada masa penjajahan belanda dulu di sekolah dokter pribumi, “STOVIA”,selain siswa yang beragama Kristen terdapat larangan memakai pakaian baju khas eropa.

Maka daripada itu, seluruh siswa mengenakan pakaian dari daerah asalnya masing-masing, contohnya blangkon yang di kenakan para pelajar dari jawa, dari sejarah ini, tampak jelas jika para penjajah hendak mengklasifikasikan bangsa Indonesia dari berbagai golongan. Tujuannya adalah untuk mempercerai rasa kesatuan dan persatuan para pelajar bangsa.

Oleh karena itulah para aktivis mahasiswa sepakat untuk enggan menggunakan penutup kepala dari daerahnya masing-masing, karena dianggap dapat menghambat kemajuan moderenisasi dan penolakan terhadap adat lama pun bergulir. Lalu apa gantinya

III. Soekarno, Peci sebagai Ikon Kesatuan Bangsa Indonesia

Penolakan dari mahasiswa tentu saja tidak lantas mereka memakai topi yang digunakan penjajah, pada Juni1921 Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai peci.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan.

Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang,dan ia memakai peci. Tapi ia sebenarnya takut diketawakan. Dalam hati ia berkata pada dirinya sendiri, kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru. Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate. Setelah ragu sebentar, ia berkata kepada diri sendiri: “Ayo maju. Pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata‐kata”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.” Peci, kata Bung Karno pula, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu”. Dan itu “asli kepunyaan rakyat kita. Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya,peci mencerminkan Indonesia.

Maka tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci.

Kesimpulan dari kisah diatas, menerangkan jika sesungguhnya peci itu bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya.

Dalam hal ibadah mengapa kebanyakan orang Islam mengenakan peci (yang laki-laki), itu dimaksudkan untuk menutup kepala dari tertutupnya rambut disaat sujud ketika sholat. Dan dibeberapa Negara memiliki penutup kepala sendiri yang dikenakan dalam sholat.